Adikku
tengah di ambang di fase peralihan dari siswa SMA menuju mahasiswa
Di
tengah kecemasan menanti hasil SNMPTN, sempat muncul wacana ortu untuk
menempatkan adikku itu di pesantren tahfizh sambil kuliah, sama sepertiku.
Namun
dia yang tidak ingin baktinya terhambat karena masantren itu memilih untuk tetap di rumah, agar tetap bisa membantu Ummi di rumah
Ah,
adikku...
Tak
pernah henti membuatku cemburu
Tadi
ketika aku ke rumah untuk mengambil beberapa barang ke asrama, adikku bercerita
bahwa sepertinya ortu sudah sepakat bahwa dia tidak jadi ditempatkan di
pesantren.
Alasannya,
Ummi membutuhkan adikku untuk terus mengurus rumah, merawat adik-adikku
Tiba-tiba dadaku terasa sesak
Ummi
tidak pernah memperjuangkan keberadaanku di rumah seperti adikku itu
Rasanya
aku dilepas ke pesantren dengan penuh kelapangan
Rasanya
tidak ada selewat pun usaha Ummi untuk mempertahankan aku agar tetap berada di
rumah...
Aku
semakin cemburu...
Isya
tadi, di tengah isak tangis menjelang perpindahan asrama, aku mengirim SMS
pada adikku itu.
Intinya
adalah, kita tak harus sama
Engkau
sayang Ummi
Aku juga
sayang Ummi
Tapi
cara kita menunjukkan sayang itu tak harus sama
Engkau
dengan ketulusan hati dan keterampilanmu, membersihkan rumah, mencuci baju, menjaga
adik-adik kita...
Aku
dengan cita-citaku, berusaha menghafal Al-Qur'an semampuku
Adikku,
kau bilang bahwa kau cemburu padaku?
Karena
aku berprestasi, dibutuhkan di mana-mana?
Ah, kau
hanya melihat jernihnya saja
Padahal,
terlalu banyak endapan duka yang tak mungkin kutunjukkan padamu
Adikku,
tahukah engkau, bahwa sejatinya aku lah yang pantas untuk cemburu?
Karena
Ummi membutuhkanmu di rumah, sedangkan Ummi melepas kepergianku tanpa beban?
Engkau
pikir aku tak cemburu?
Mendengar
Ummi berbisik, berharap engkau tetap di sini?
Engkau
pikir aku tak cemburu?
Mendengar
Ummi memuji dan mendoakanmu dalam senyap, di tengah perbincangan rahasia antara kami berdua?
Justru
karena aku tidak bisa menggunakan caramu
Aku
memilih untuk menjadi penghafal Al-Qur'an, insya Allah, setidaknya aku bisa
menyematkan jubah kemuliaan di bahu Ummi Abi di akhirat kelak
Jika bukan di dunia aku membuat mereka tersenyum, setidaknya aku bisa menyeka air mata mereka di akhirat..
Lucunya...
Kita
saling melempar cemburu
Padahal,
Ummi mencintai kita semua
Ummi
tidak pernah pilih kasih
Hanya memahami potensi anak-anaknya yang berbeda
Berharap 9 kader dakwah biologisnya dapat memberi arti
Adikku,
cemburu kita memang menguras hati
Sementara
tidak ada yang menjamin berapa detik lagi kita masih bisa mendengar nasihat
Ummi
Tidak
ada yang menjamin apakah esok kita masih bisa mencium aroma khas roti kukus
Ummi
Tidak
ada yang menjamin apakah nanti malam masih ada yang menjamu Abi yang baru
pulang dari kantor, menghidupkan dapur di tengah malam sampai Abi kenyang dan peluhnya terbayar
Adikku,
kita memang tak harus sama
Karena itu, biarlah bakti
kita pada relnya masing-masing
Selama
Ummi meridhoi apa yang kita lakukan
Teruskanlah...
Amanah
kita berbeda, karena kita memang tak sama
Karena...
Kita tak harus sama
-Bandung, H-1 perpindahan asrama-
No comments:
Post a Comment