Friday, May 9, 2014

Adikku, Kita tak Harus Sama

Adikku tengah di ambang di fase peralihan dari siswa SMA menuju mahasiswa
Di tengah kecemasan menanti hasil SNMPTN, sempat muncul wacana ortu untuk menempatkan adikku itu di pesantren tahfizh sambil kuliah, sama sepertiku.
Namun dia yang tidak ingin baktinya terhambat karena masantren itu memilih untuk tetap di rumah, agar tetap bisa membantu Ummi di rumah

Ah, adikku...
Tak pernah henti membuatku cemburu
Tadi ketika aku ke rumah untuk mengambil beberapa barang ke asrama, adikku bercerita bahwa sepertinya ortu sudah sepakat bahwa dia tidak jadi ditempatkan di pesantren.
Alasannya, Ummi membutuhkan adikku untuk terus mengurus rumah, merawat adik-adikku

Tiba-tiba dadaku terasa sesak
Ummi tidak pernah memperjuangkan keberadaanku di rumah seperti adikku itu
Rasanya aku dilepas ke pesantren dengan penuh kelapangan
Rasanya tidak ada selewat pun usaha Ummi untuk mempertahankan aku agar tetap berada di rumah...

Aku semakin cemburu...
Isya tadi, di tengah isak tangis menjelang perpindahan asrama, aku mengirim SMS pada adikku itu.
Intinya adalah, kita tak harus sama

Engkau sayang Ummi
Aku juga sayang Ummi

Tapi cara kita menunjukkan sayang itu tak harus sama
Engkau dengan ketulusan hati dan keterampilanmu, membersihkan rumah, mencuci baju, menjaga adik-adik kita...
Aku dengan cita-citaku, berusaha menghafal Al-Qur'an semampuku

Adikku, kau bilang bahwa kau cemburu padaku?
Karena aku berprestasi, dibutuhkan di mana-mana?
Ah, kau hanya melihat jernihnya saja
Padahal, terlalu banyak endapan duka yang tak mungkin kutunjukkan padamu

Adikku, tahukah engkau, bahwa sejatinya aku lah yang pantas untuk cemburu?
Karena Ummi membutuhkanmu di rumah, sedangkan Ummi melepas kepergianku tanpa beban?

Engkau pikir aku tak cemburu?
Mendengar Ummi berbisik, berharap engkau tetap di sini?

Engkau pikir aku tak cemburu?
Mendengar Ummi memuji dan mendoakanmu dalam senyap, di tengah perbincangan rahasia antara kami berdua?

Justru karena aku tidak bisa menggunakan caramu
Aku memilih untuk menjadi penghafal Al-Qur'an, insya Allah, setidaknya aku bisa menyematkan jubah kemuliaan di bahu Ummi Abi di akhirat kelak
Jika bukan di dunia aku membuat mereka tersenyum, setidaknya aku bisa menyeka air mata mereka di akhirat..

Lucunya...
Kita saling melempar cemburu
Padahal, Ummi mencintai kita semua
Ummi tidak pernah pilih kasih
Hanya memahami potensi anak-anaknya yang berbeda
Berharap 9 kader dakwah biologisnya dapat memberi arti

Adikku, cemburu kita memang menguras hati
Sementara tidak ada yang menjamin berapa detik lagi kita masih bisa mendengar nasihat Ummi
Tidak ada yang menjamin apakah esok kita masih bisa mencium aroma khas roti kukus Ummi
Tidak ada yang menjamin apakah nanti malam masih ada yang menjamu Abi yang baru pulang dari kantor, menghidupkan dapur di tengah malam sampai Abi kenyang dan peluhnya terbayar

Adikku, kita memang tak harus sama
Karena itu, biarlah bakti kita pada relnya masing-masing
Selama Ummi meridhoi apa yang kita lakukan
Teruskanlah...

Amanah kita berbeda, karena kita memang tak sama
Karena...
Kita tak harus sama

-Bandung, H-1 perpindahan asrama-

Thursday, May 8, 2014

Reminder : Bersegeralah, karena Waktu Takkan Menantimu...

Hari ini, tanpa sengaja saya memeroleh reminder dari guru ngaji..
Awalnya aku berniat untuk bertualang di FB, ngecek postingan Kartun Muslimah terakhirku, untuk memastikan pertanyaan-pertanyaan dari liker seputar muatan dakwah yang dipost bersamaan dengan artwork itu terjawab.

Jujur, jawaban-jawaban itu tidak semuanya saya peroleh berbekal pengetahuan pribadi. Sebagian besar jawaban-jawaban itu saya peroleh dari hasil diskusi, tanya jawab dengan orang tua melalui SMS. Saya memang benar-benar beruntung, memiliki kedua orang tua sebagai guru ngaji senior yang pengalaman dakwahnya tidak diragukan lagi.

Nah, ketika tengah asyik membaca deretan komentar, tiba-tiba ada pemberitahuan bahwa guru ngajiku yang bernama teh Rini Inggriani, me-mention namaku.

Ternyata, untuk kedua kalinya beliau membuat tulisan di blognya khusus untukku :')
#terharu

Di blognya yang beralamat di www.riniinggriani.blogspot.com itu, tertera tulisan ini;

So Simple
Bahagia itu sederhana
Sesederhana melihat karya seseorang, yang ditujukan untuk kita..
So, happiness is simple.
You can create your own happiness... Like my husband says... :)
Jazakillah khair midah... :)
So sweet...:*

-Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu-
-Bergeraklah, karena diam berarti kematian-

Oalaah..,
Ini adalah tulisan kedua beliau yang ditujukan untukku :D
Karena aku memposting sebuah potongan artwork yang tertera credit (atau apa namanya) khas di setiap akhir post blog pribadinya :
"Bersegeralah, karena waktu takkan menantimu. Bergeraklah, karena diam berarti kematian"

Sedangkan tulisan sebelumnya ialah ketika salah satu karyaku dipost oleh Alyssa Soebandono di Fanspage FB nya, artis yang sudah berjilbab itu menyebutkan bahwa karya itu diperolehnya melalui Meyda Sefira
Uwoow, tidak ada yang lebih menyenangkan selain mengetahui bahwa karya-karya kecilku mendunia :')

Oke, kembali ke reminder tadi, aku jadi ingat bahwa aku sempat berjanji akan mengikuti langkah guru ngajiku, teh Rini, untuk membuat tulisan di blog, 1 hari minimal 1 tulisan

Dan di sinilah aku, memulai dengan segala keterbatasan...
Terima kasih teh Rini, tulisanmu benar-benar telah menyadarkanku..
Bahwa menunda, ada kalanya berarti membatalkan
Bahwa terdiam, ada kalanya berarti putus asa
Karenanya aku harus bersegera, karena waktu takkan menantiku..
Aku juga tidak boleh tinggal diam, menunggu tanpa kepastian..
Tapi aku harus bergerak, terus bergerak, karena diam berarti kematian...

Hari ini,
Di sini,
Karenamu,
KarenaMu,
Aku memulai ~

Bandung, H-2 perpindahan asrama